Kapan Penderita Darah Tinggi Wajib Minum Obat? Ini Penjelasan Dokter

waktu baca 2 menit
Selasa, 16 Des 2025 11:00 54 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id Banyak penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi merasa belum perlu mengonsumsi obat karena tidak merasakan keluhan apa pun. Padahal, ada kondisi tertentu yang menandakan hipertensi sudah harus ditangani dengan terapi medis.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospital Agora, dr Gustaf David Sinaka Sitorus, SpJP, menjelaskan bahwa tekanan darah bersifat fluktuatif dan tidak bisa dinilai sembarangan. Pengukuran harus dilakukan dalam kondisi tubuh yang benar-benar tenang agar hasilnya akurat.

“Tekanan darah dinilai tinggi jika diukur saat pasien dalam kondisi istirahat. Bukan setelah aktivitas fisik. Duduk dulu selama 5 sampai 10 menit, rileks, baru dilakukan pengukuran,” jelas dr Gustaf.

Menurut dr Gustaf, satu kali pengukuran belum cukup untuk memastikan seseorang mengalami hipertensi. Idealnya, tekanan darah diperiksa minimal dua kali di waktu yang berbeda.

Langkah ini penting agar dokter dapat menentukan apakah pasien benar-benar membutuhkan terapi obat atau cukup dengan perubahan gaya hidup.

Tidak semua penderita tekanan darah tinggi harus langsung mengonsumsi obat. Jika tekanan darah sedikit meningkat dan tidak disertai faktor risiko lain, dokter biasanya akan menyarankan perubahan gaya hidup terlebih dahulu.

Namun, obat wajib dipertimbangkan jika:

  • Tekanan darah konsisten di atas 140 mmHg

  • Memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, kolesterol tinggi, atau riwayat penyakit jantung

  • Tekanan darah tetap tinggi meski sudah melakukan perubahan gaya hidup

“Kalau hanya tekanan darah yang naik, faktor risiko masih bisa dimodifikasi. Misalnya menurunkan berat badan, mengurangi konsumsi garam, memperbaiki pola tidur, dan rutin berolahraga,” ujar dr Gustaf.

Jika setelah perubahan tersebut tekanan darah kembali normal, penggunaan obat bisa saja tidak diperlukan.

Apabila hasil pengukuran berulang menunjukkan tekanan darah tetap tinggi secara stabil, terapi harus segera dilakukan. Penanganannya bisa berbeda-beda, tergantung kondisi kesehatan masing-masing pasien.

“Kalau sudah kronis, mau tidak mau tekanan darah harus diturunkan. Pada kondisi tertentu, penggunaan obat memang menjadi pilihan terbaik,” pungkas dr Gustaf.

Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, namun risikonya sangat serius jika diabaikan. Pengukuran yang tepat, evaluasi faktor risiko, serta konsultasi dengan dokter menjadi kunci untuk menentukan apakah obat diperlukan atau tidak. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA