Ilustrasi ucapan Isra Miraj 2026/1447 H.(Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.com/Zulfikar Hardiansyah) JAKARTA, Cuitan.id – Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), kemudian dinaikkan menembus langit hingga Sidratul Muntaha (Miraj).
Meskipun peristiwa ini bersifat ghaib dan ranah keimanan, di era modern, sebagian kalangan mencoba memahaminya melalui perspektif fisika modern sebagai refleksi intelektual. Pendekatan ilmiah ini bukan untuk menguji kebenaran wahyu, melainkan membantu manusia memahami bahwa yang dulu dianggap mustahil kini mulai tersentuh sains.
Teori Relativitas Khusus Albert Einstein menyatakan bahwa waktu bersifat relatif. Objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi mengalami dilatasi waktu, di mana waktu bagi objek berjalan lebih lambat dibanding pengamat lain.
Dalam konteks Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan kosmik yang sangat jauh, namun waktu di Bumi seakan tidak banyak berlalu. Fenomena ini, secara fisika modern, sejalan dengan pengalaman astronot yang bergerak mendekati kecepatan cahaya.
Al-Qur’an menyebut cahaya (nur) sebagai unsur fundamental ciptaan Allah. Dalam fisika, cahaya adalah batas kecepatan tertinggi di alam semesta. Sebagian pemikir Muslim mengaitkan Buraq, kendaraan Isra, sebagai entitas non-materi yang bergerak tanpa terikat hukum fisika klasik, sehingga perjalanan ini berada di domain hukum Allah, bukan sekadar hukum fisika manusia.
Fisika modern mengenal ruang-waktu empat dimensi, sementara teori lanjutan seperti string theory bahkan menyebut kemungkinan dimensi tambahan. Dalam kerangka ini, perjalanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai lintas dimensi, bukan sekadar perjalanan horizontal.
Teori wormhole (lubang cacing) menjelaskan kemungkinan terowongan ruang-waktu yang menghubungkan dua titik jauh dalam semesta. Meski masih teoretis, konsep ini memberikan ilustrasi bagaimana perjalanan Isra dapat terjadi dalam waktu singkat, tentu dengan izin Allah Yang Maha Kuasa.
Isra Miraj tetap merupakan mukjizat kenabian, bukan peristiwa ilmiah. Sains hanya membantu manusia memahami kompleksitas alam semesta. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa akal memiliki batas, sementara wahyu berasal dari Zat Yang Maha Mengetahui, termasuk hukum alam yang belum dipahami manusia.
Isra Miraj menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal, melainkan melampauinya. Fisika modern menegaskan betapa luas dan misterius ciptaan Allah. Mukjizat bukan pelanggaran hukum alam, tetapi bagian dari hukum yang belum sepenuhnya manusia pahami.
Isra Miraj mengajarkan kenaikan spiritual, perintah shalat, dan kedekatan manusia dengan Tuhan, pesan yang tetap relevan di semua zaman dan peradaban. ***
Tidak ada komentar