Doa Perjalanan Jauh Menjelang Ramadhan: Amalan Rasulullah agar Safar Aman dan Berkah

waktu baca 5 menit
Minggu, 8 Feb 2026 05:00 36 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, aktivitas perjalanan umat Islam biasanya meningkat. Sebagian orang mulai mudik lebih awal, melakukan perjalanan dinas, atau menjalankan safar ibadah.

Dalam Islam, perjalanan jauh bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari ujian kehidupan yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Karena itu, Rasulullah SAW mencontohkan berbagai doa agar perjalanan diliputi keselamatan, ketenangan, dan keberkahan.

Safar dalam Pandangan Islam

Dalam Alquran, perjalanan atau safar kerap disebut sebagai bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Wa huwal-ladzī ja‘ala lakumul-arḍa dzalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū min rizqihī wa ilaihin-nusyūr.

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu kembali.” (QS. Al-Mulk: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan adalah bagian dari aktivitas manusia yang diizinkan dan difasilitasi Allah.

Namun, kemudahan tersebut tetap menuntut kesadaran spiritual. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan persiapan fisik, tetapi juga persiapan batin melalui doa.

Doa Perjalanan Jauh yang Dibaca Rasulullah SAW

Dalam buku Doa & Zikir Mustajab untuk Muslimah karya H. Muhammad Rahmatullah, disebutkan riwayat Abdullah bin Sarjis bahwa Rasulullah SAW selalu membaca doa tertentu ketika hendak melakukan perjalanan jauh.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ، اللَّهُمَّ اصْحَبْنَا فِي سَفَرِنَا وَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ وَمِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْنِ وَمِنْ دَعْوَةِ الْمَظْلُومِ وَمِنْ سُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الأَهْلِ وَالْمَالِ.

Allāhumma antash-shāhibu fis-safari wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhummaṣ-ḥabnā fī safarinā wakhlufnā fī ahlinā. Allāhumma innī a’ūdzu bika min wa’tsā’is-safari wa kaābatil-munqalabi wa minal-ḥauri ba’dal-kauni wa min da’watil maẓlūmi wa min sū’il-manẓari fil-ahli wal-māl.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Teman dalam perjalanan, dan Pengganti di dalam keluarga. Ya Allah, sertailah kami dalam perjalanan kami, dan gantilah kami dalam keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, dan kesedihan saat kembali, serta dari kekafiran setelah iman, dan dari doa orang yang dizalimi, dari keburukan pemandangan dalam keluarga dan harta.” (HR Tirmidzi)

Doa ini menunjukkan keseimbangan batin seorang musafir: tenang menjalani perjalanan, sekaligus pasrah menitipkan keluarga kepada Allah.

Doa Naik Kendaraan, Relevan di Tengah Arus Mudik

Menjelang Ramadhan, arus perjalanan darat, laut, dan udara biasanya meningkat. Islam mengajarkan doa khusus saat menaiki kendaraan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih.

بِسْمِ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ (3 مرات)، اللَّهُ أَكْبَرُ (3 مرات)، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَكْبَرُ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

Bismillāh, alhamdulillāh, subḥānal-ladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.
Alhamdulillāh (3x), Allāhu akbar (3x), subḥānaka Allāhumma innī akbaru ẓalamtu nafsī faghfir lī, fa innahu lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.

Artinya: “Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Mahasuci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (pada Hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Mahasuci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lihat Shahih At-Tirmidzi)

Dalam konteks mudik, doa ini mengingatkan bahwa teknologi transportasi secanggih apa pun tetap berada dalam kuasa Allah SWT.

Doa Keselamatan Sepanjang Perjalanan

Dalam buku Penuntun Doa, Yuk! karya Abu Ihsan, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar dijauhkan dari kesulitan perjalanan dan keburukan saat kembali.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

Allahumma antash shohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.

Artinya: Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan tempat kembali, doa orang yang teraniaya, dan dari pandangan yang menyedihkan dalam keluarga dan harta.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Doa ini terasa sangat relevan bagi para pemudik yang menempuh perjalanan panjang, melelahkan, dan penuh risiko.

Doa Setelah Kembali: Mensyukuri Keselamatan

Islam tidak hanya mengajarkan doa saat berangkat, tetapi juga setelah kembali. Rasulullah SAW membaca dzikir khusus sebagai ungkapan syukur.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ايبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Āyibūna tāibūna ‘ābidūna sājidūna lirabbinā ḥāmidūn. Ṣadaqallāhu wa’dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah.

Artinya: “Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami pulang, bertobat, mengabdi, bersujud dan kami memuji kepada Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan dengan sendiri pasukan-pasukan yang bersekutu.” (HR Al-Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar)

Ini menjadi penegasan bahwa keselamatan dalam perjalanan adalah nikmat yang patut disyukuri, terlebih jika perjalanan tersebut dilakukan menjelang Ramadhan, bulan ampunan dan taubat.

Adab Setelah Pulang dari Perjalanan Menjelang Ramadhan

Dalam tradisi keislaman, musafir dianjurkan tidak langsung larut dalam istirahat. Beberapa adab yang disarankan antara lain membaca doa ketenangan tempat tinggal, menunaikan shalat fardhu, memperbanyak istigfar, hingga melakukan sujud syukur.

Doa yang dianjurkan antara lain:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا

Allāhumma’j’alnā bihā qarāran wa rizqan ḥasanā.

Artinya: “Ya Allah, jadikan untuk kami ketetapan dan ketenangan di dalamnya, dan berilah kami rezeki yang baik.”

Menyambut Ramadhan dengan Safar yang Berkah

Perjalanan menjelang Ramadhan bukan hanya soal pulang kampung atau berpindah kota. Ia bisa menjadi awal penyucian diri, jika diiringi doa, kesadaran, dan niat yang lurus.

Safar yang disertai doa menjadikan langkah lebih ringan, hati lebih tenang, dan Ramadhan disambut dengan kesiapan lahir dan batin.

Di tengah hiruk-pikuk mudik dan persiapan puasa, doa perjalanan jauh menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan manusia sejatinya menuju satu tujuan akhir, yaitu kembali kepada Allah SWT. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA