Batas Akhir Qadha Puasa Ramadhan di Bulan Syaban

waktu baca 3 menit
Sabtu, 14 Feb 2026 05:00 3 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Menjelang Ramadhan 2026, bulan Syaban menjadi momen penting bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan sebelumnya. Qadha puasa merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan sebelum datangnya bulan suci berikutnya.

Dalam ajaran Islam, orang yang tidak berpuasa karena uzur seperti sakit atau safar diwajibkan menggantinya di hari lain. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dasar kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan.

Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah sampai kapan batas bayar utang puasa Ramadhan boleh dilakukan di bulan Syaban?

Kapan Batas Waktu Melaksanakan Puasa Qadha Ramadhan?

Secara umum, batas waktu melaksanakan puasa qadha adalah sebelum satu atau dua hari terakhir bulan Syaban, sehingga tidak berdekatan dengan penetapan awal Ramadhan.

Hari terakhir Syaban di kenal sebagai hari syak, yaitu hari yang di ragukan apakah sudah masuk Ramadhan atau belum.

Dilansir dari laman MUI, dalam pandangan ulama Mazhab Syafi’i, berpuasa setelah Nishfu Syaban pada dasarnya tidak dianjurkan, bahkan disebutkan larangan dalam hadis Nabi SAW:

إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا

Artinya: “Ketika Sya’ban sudah melewati separuh bulan, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR an-Nasa’i)

Imam asy-Syaukani menjelaskan bahwa mayoritas ulama Syafi’iyah memaknai larangan tersebut di mulai sejak tanggal 16 Syaban. Beliau mengutip riwayat:

وَقَدْ قَطَعَ كَثِيرٌ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ بِأَنَّ ابْتِدَاءَ الْمَنْعِ مِنْ أَوَّلِ السَّادِسِ عَشَرَ مِنْ شَعْبَانَ…

“Mayoritas kalangan Syafi’iyah menegaskan bahwa awal larangan berpuasa di mulai sejak awal tanggal enam belas bulan Sya’ban…” (Nailul Author, vol. 4, h. 291)

Alasan Qadha Puasa Ramadhan Tetap Diperbolehkan

Meski terdapat larangan puasa sunnah setelah pertengahan Syaban, ketentuan ini tidak bersifat mutlak.

Para ulama Syafi’iyah memberikan pengecualian bagi puasa yang memiliki sebab syar’i, termasuk qadha puasa Ramadhan.

Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi menjelaskan:

تَتِمَّةٌ: يَحْرُمُ الصَّوْمُ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ وَالْعِيْدَيْنِ… وَكَذَا بَعْدَ نِصْفِ شَعْبَانَ مَا لَمْ يَصِلْهُ بِمَا قَبْلَهُ أَوْ لَمْ يُوَافِقْ عَادَتَهُ أَوْ لَمْ يَكُنْ عَنْ نَذْرٍ أَوْ قَضَاءٍ…

“Penyempurna pembahasan: Haram hukumnya berpuasa pada hari-hari Tasyrik dan dua hari raya. Begitu pula di haramkan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban, kecuali apabila puasa itu di sambungkan dengan puasa sebelumnya, atau bertepatan dengan kebiasaan puasanya, atau di lakukan karena nazar atau qadha…” (Hasyiyah I’anah at-Thalibin, vol. 1, h. 455)

Artinya, qadha puasa Ramadhan setelah pertengahan Syaban tetap di perbolehkan karena memiliki alasan syar’i.

Kriteria Orang yang Boleh Melakukan Qadha Puasa Ramadhan

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam fatwanya menjelaskan batasan seseorang di anggap memiliki kebiasaan puasa sehingga boleh tetap berpuasa setelah Nishfu Syaban. Ia menuturkan:

وَسُئِلَ فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهُ…

“Beliau (Imam Ibnu Hajar) pernah di tanya… dalam menetapkan suatu kebiasaan, cukup dengan satu kali, selama tidak di selingi dengan berbuka pada hari yang biasa ia melakukan puasa…” (Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, vol. 2, h. 33)

Dari penjelasan tersebut, dapat di pahami bahwa qadha puasa setelah pertengahan Syaban tetap sah dalam tinjauan Mazhab Syafi’i karena termasuk puasa yang memiliki sebab.

Anjuran Tidak Menunda Qadha Puasa Ramadhan

Walaupun qadha puasa Ramadhan di perbolehkan hingga menjelang Ramadhan berikutnya, para ulama menganjurkan agar tidak menunda hingga mendekati bulan suci.

Menyegerakan qadha merupakan bentuk kehati-hatian sekaligus kesungguhan dalam menunaikan kewajiban.

Niat Qadha Puasa Ramadhan

Bagi yang mengganti puasa Ramadhan, wajib memasang niat qadha di malam hari, khususnya menurut Mazhab Syafi’i.

Lafal niat qadha puasa Ramadhan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Batas bayar utang puasa Ramadhan pada dasarnya di perbolehkan hingga akhir bulan Syaban, termasuk setelah pertengahan bulan, selama puasa tersebut memiliki sebab syar’i seperti qadha.

Meski demikian, umat Islam di anjurkan untuk segera menunaikan kewajiban tersebut agar dapat menyambut Ramadhan dalam keadaan bersih dari tanggungan ibadah. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA