Kondisi Aurelie Moeremans pasca gegar otak. Instagram @aurelie JAKARTA, Cuitan.id – Aktris Aurelie Moeremans menjadi sorotan publik setelah memoar terbarunya berjudul Broken Strings viral di media sosial. Buku ini bukan sekadar kisah pribadi, melainkan bentuk kepedulian Aurelie terhadap isu serius yang masih kerap luput dari perhatian, yakni child grooming.
Perempuan kelahiran Brussel, Belgia, tersebut secara terbuka membagikan pengalaman masa lalunya saat menjadi korban manipulasi emosional ketika masih remaja. Melalui buku ini, Aurelie berharap masyarakat lebih memahami bahaya child grooming serta dampaknya terhadap korban.
Child grooming sendiri merupakan proses pendekatan dan manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan korban, terutama anak dan remaja, sebelum akhirnya mengeksploitasi mereka secara emosional maupun seksual.
Melalui unggahan Instagram Story pada Minggu (18/1/2026), istri dari Tyler Bigenho menegaskan bahwa keberaniannya menulis Broken Strings didasari oleh niat edukasi, bukan pencarian popularitas.
“Ini bukan tentang aku, ini tentang kesadaran,” tulis Aurelie.
Aurelie menyebut bukunya sebagai bentuk “kompas” bagi anak muda dan orang tua agar mampu mengenali tanda-tanda manipulasi sejak dini. Ia berharap generasi muda dapat lebih waspada dan terhindar dari situasi yang berpotensi merusak masa depan mereka.
“Supaya anak muda tahu ciri-ciri child grooming dan bisa mengenalinya sejak awal, sehingga bisa menghindar sebelum terlambat,” ungkap aktris berusia 32 tahun itu.
Menurut Aurelie, kisah yang ia alami hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus serupa yang sering kali tidak terlihat dan kurang mendapat kepercayaan dari lingkungan sekitar. Tak jarang, korban justru disalahpahami atau memilih diam karena takut.
Kejujuran Aurelie menuai banyak dukungan dari warganet. Kutipan dari Broken Strings ramai dibagikan ulang sebagai bentuk empati sekaligus pengingat pentingnya perlindungan anak dan remaja.
Menanggapi respons tersebut, bintang film Baby Blues ini mengaku terharu karena pesan yang ia sampaikan dapat diterima oleh banyak orang.
“Bukan karena bukunya viral, tapi karena harapan agar tidak ada lagi anak muda yang harus merasa bingung dan terluka sendirian,” ujarnya.
Bagi Aurelie, keberhasilan Broken Strings tidak diukur dari angka penjualan, melainkan dari dampak nyata yang mampu melindungi generasi muda.
“Jika dengan bersuara aku bisa mencegah satu anak saja mengalami hal serupa, itu sudah lebih dari cukup,” tutupnya. ***
Tidak ada komentar