Cuitan.id – Hari Raya Idul Adha 1447 H akan menyapa umat Muslim pada 27 Mei 2026. Menjelang hari besar ini, umat Islam biasanya menyambutnya dengan gemuruh takbir dan persiapan hewan kurban. Namun, di balik riuhnya perayaan, ada banyak ruang ibadah yang bisa kita gali lebih dalam.
Malam takbiran bukan sekadar waktu luang untuk menunggu pagi. Imam Asy-Syafi’i bahkan menegaskan bahwa malam Idul Adha termasuk dalam lima malam utama yang menjadi waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa.
Rasulullah SAW juga memotivasi kita melalui sabdanya bahwa siapa saja yang menghidupkan malam dua hari raya dengan ibadah karena mengharap pahala Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari ketika semua hati mati.
Meskipun beberapa ahli hadis mengategorikan riwayat tersebut sebagai hadis dhaif (lemah), mayoritas ulama seperti Imam an-Nawawi tetap menggunakannya sebagai landasan keutamaan amal (fadhā’il al-a‘māl).
Agar malam takbiran Anda memberikan pahala yang melimpah, mari kita praktikkan 8 amalan sunnah yang bersumber dari panduan para ulama berikut ini.
Masyarakat umumnya hanya tahu bahwa mandi sunnah berlangsung pada pagi hari sebelum shalat Id. Padahal, Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam kitab Hasyiyatu Asy-Syaikh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan bahwa Anda sudah bisa memulai mandi sunnah ini sejak tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah. Langkah ini menjadi bentuk penghormatan awal untuk menyambut hari raya yang suci.
Membersihkan diri merupakan bagian dari fitrah manusia. Sebelum berangkat shalat Id, manfaatkan malam takbiran untuk memotong kuku, merapikan kumis, serta mencabut bulu ketiak. Syekh Abu Bakar al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar menganjurkan amalan ini agar kondisi tubuh kita benar-benar bersih dan segar saat menyambut hari raya.
Islam sangat menyukai keindahan. Rasulullah SAW selalu memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian saat hari raya. Bagi kaum pria, Anda bisa memilih pakaian berwarna putih bersih dan menggunakan parfum terbaik. Sementara bagi kaum wanita, kenakanlah pakaian yang sopan, rapi, dan tidak berlebihan.
Jangan biarkan malam takbiran berlalu tanpa makna. Selain mengumandangkan takbir, hiasi malam tersebut dengan memperbanyak bacaan shalawat, istigfar, dan doa kebaikan. Anda bisa mengamalkan doa sapu jagat untuk memohon kebahagiaan dunia dan akhirat, mengingat malam ini adalah waktu yang sangat mustajab.
Jika Anda berniat menunaikan ibadah kurban tahun ini, harap perhatikan aturan penting ini. Rasulullah SAW melarang umatnya yang ingin berkurban untuk memotong rambut dan kuku sejak memasuki tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hikmah aturan ini adalah agar seluruh bagian tubuh orang yang berkurban tetap utuh saat menerima pahala dan ampunan.
Saat ini, masyarakat sering kali menganggap takbiran hanya berpusat di masjid. Padahal, Anda juga perlu mengumandangkan takbir di dalam rumah bersama keluarga. Menghidupkan dzikir di rumah akan mengalirkan ketenangan, menghadirkan malaikat rahmat, serta menjauhkan rumah dari kekosongan spiritual.
Berbeda dengan Idul Fitri yang menyunnahkan kita untuk makan sebelum shalat, Idul Adha justru menganjurkan hal sebaliknya. Nabi Muhammad SAW memilih untuk tidak makan apa pun pada pagi hari Idul Adha sampai beliau pulang shalat, lalu menyantap daging hasil sembelihan kurbannya. Jika Anda tidak berkurban, Anda tetap bisa mengikuti sunnah menunda makan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap syariat.
Saat melangkah menuju tempat shalat Id, suarakan takbir dengan lantang sebagai syiar Islam. Selain itu, pilihlah rute jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang. Strategi ini meniru kebiasaan Rasulullah SAW agar kita bisa menjumpai lebih banyak tetangga, menyebarkan senyuman, dan mempererat tali silaturahmi.
| Amalan Sunnah | Waktu Pelaksanaan Paling Tepat |
| Mandi Sunnah | Mulai tengah malam hingga sebelum berangkat shalat Id |
| Potong Kuku & Rapikan Rambut | Sepanjang malam takbiran (kecuali bagi yang berkurban) |
| Memakai Parfum & Pakaian Terbaik | Saat hendak berangkat ke masjid/lapangan |
| Shalawat, Istigfar, & Doa | Sepanjang malam takbiran |
| Larangan Potong Rambut/Kuku | 1 Dzulhijjah sampai hewan kurban selesai disembelih |
| Dzikir Rumah Tangga | Sepanjang malam hari raya |
| Menahan Makan Pagi | Sejak subuh hingga selesai menunaikan shalat Id |
| Membaca Takbir di Jalan | Selama perjalanan menuju lokasi shalat |
Menjaga Hati Tetap Hidup: Ibadah di malam hari raya menjadi benteng spiritual yang menjaga jiwa kita dari kelalaian duniawi.
Syiar dan Kegembiraan Islam: Mengenakan pakaian rapi, memakai wangi-wangian, dan mengumandangkan takbir mencerminkan rasa syukur dan keagungan agama.
Solidaritas Sosial: Menunda makan hingga hewan kurban rebah menumbuhkan rasa empati yang mendalam kepada sesama, terutama fakir miskin yang menantikan distribusi daging.
Mempererat Silaturahmi: Berjalan kaki dengan rute berbeda membuka peluang untuk menyapa lebih banyak orang dan menebar kedamaian.
Anda bisa mengisi malam takbiran dengan mengumandangkan takbir, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memanjatkan doa, serta bersiap diri secara fisik seperti mandi sunnah dan merapikan pakaian untuk esok hari.
Umat Islam sebaiknya mengumandangkan takbir sesuai dengan waktu yang telah syariat tetapkan. Untuk Idul Adha, takbir muqayyad (yang mengiringi shalat fardhu) dimulai sejak subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu ashar hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah). Mematuhi waktu ini merupakan bentuk ketaatan kita pada panduan ibadah.
Ya, benar. Para ulama besar termasuk Imam Asy-Syafi’i menegaskan bahwa malam hari raya adalah salah satu waktu emas di mana Allah swt mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
Secara hukum Islam, tidak ada dalil yang melarang hubungan suami istri pada malam hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri. Larangan hubungan intim hanya berlaku saat seseorang sedang melaksanakan ibadah puasa di siang hari atau sedang dalam keadaan ihram haji dan umrah. **
Tidak ada komentar