Kisah Ukasyah: Sahabat Nabi yang Menjemput Surga Lewat Pelukan

waktu baca 2 menit
Senin, 20 Apr 2026 05:00 8 admincuitan

Cuitan.id – Siapa yang tidak mendambakan jaminan surga? Di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAW, nama Ukasyah bin Mihshan abadi sebagai sosok istimewa. Ia bukan sekadar pejuang tangguh di medan laga, melainkan pribadi yang memiliki kecerdasan spiritual luar biasa untuk mendekatkan diri kepada sang kekasih Allah.

Ksatria Bani Asad di Barisan Terdepan

Ukasyah berasal dari suku Bani Asad. Sejarah mencatat namanya sebagai pemuda yang selalu hadir dalam momentum genting perjuangan Islam. Ia mengayunkan pedang di Perang Badar, Uhud, hingga Khandaq. Keberaniannya bukan karena haus darah, melainkan wujud loyalitas tanpa batas kepada Rasulullah SAW.

Namun, di balik ketangguhannya sebagai prajurit, Ukasyah menyimpan sisi lembut yang penuh kerinduan kepada Nabi.

Strategi “Qishash” yang Mengharukan

Momen paling ikonik dalam hidup Ukasyah terjadi menjelang wafatnya Rasulullah SAW. Saat itu, Nabi berdiri di Masjid Nabawi dan menawarkan diri kepada siapa saja yang merasa pernah tersakiti olehnya untuk membalas (qishash). Beliau ingin menghadap Allah dalam keadaan bersih dari segala urusan manusia.

Suasana hening mendadak pecah saat Ukasyah berdiri. Ia mengingatkan Nabi tentang sebuah peristiwa:

“Wahai Rasulullah, saat engkau mengatur barisan unta, cambukmu secara tidak sengaja mengenai lambungku. Hari ini, aku menuntut hakku untuk membalasmu.”

Para sahabat lain, mulai dari Abu Bakar hingga cucu kesayangan Nabi, Hasan dan Husain, merasa pilu. Mereka menawarkan tubuh sendiri sebagai pengganti. Namun, Ukasyah tetap teguh pada permintaannya.

Diplomasi Cinta Menuju Surga

Ketegangan memuncak ketika Nabi membuka bajunya dan mempersilakan Ukasyah melakukan qishash. Namun, begitu melihat kulit Rasulullah yang mulia, Ukasyah justru membuang cambuknya.

Ia langsung memeluk erat tubuh Nabi sambil menangis tersedu-sedu. Ukasyah mengaku bahwa ia hanya mencari alasan agar kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kulit Nabi sebelum ajal menjemput. Ia tahu, kulit yang pernah menyentuh tubuh Rasulullah tidak akan tersentuh api neraka.

Mengapa Ukasyah Dijanjikan Surga Tanpa Hisab?

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab (tanpa perhitungan amal). Mendengar itu, Ukasyah dengan cepat meminta doa: “Ya Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka.”

Nabi pun menjawab, “Engkau termasuk di antara mereka.”

Pelajaran Berharga untuk Kita:

  1. Keberanian yang Santun: Ukasyah mengajarkan bahwa kejujuran kepada pemimpin adalah kunci keharmonisan.

  2. Kecintaan pada Sunnah: Segala tindakan Ukasyah bersumber dari rasa cinta yang mendalam, bukan kebencian.

  3. Optimisme Iman: Ia tidak ragu meminta kedudukan tertinggi di sisi Allah melalui lisan Nabi.

Kisah Ukasyah bin Mihshan mengingatkan kita bahwa jalan menuju surga seringkali terbuka melalui ketulusan hati dan kecintaan yang murni kepada sang teladan, Muhammad SAW. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA