Cuitan.id – Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan campak. Sepanjang 2025, tercatat 63.769 kasus suspek dengan 116 KLB di berbagai daerah. Hingga Februari 2026, sudah ada 8.810 kasus suspek dengan 12 KLB di enam provinsi.
Dokter spesialis anak, dr. Lucky Yogasatria Sp.A, menjelaskan gejala awal campak sering disalahartikan sebagai flu berat. “Awal campak biasanya batuk pilek berat, bukan demam. Banyak orangtua terkecoh,” katanya.
Gejala Campak pada Anak
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan virus, menyebar lewat percikan ludah saat batuk atau bersin. Gejala awal mirip flu: batuk kering, hidung beringus, sakit tenggorokan, mata merah sensitif cahaya, lemas, dan mudah lelah. Setelah beberapa hari, demam tinggi muncul bersamaan dengan ruam merah yang biasanya dimulai dari wajah lalu menyebar ke tubuh.
Beberapa anak juga mengalami hilangnya nafsu makan, diare, muntah, nyeri tubuh, atau bercak putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan.
Faktor Risiko
Anak-anak, terutama yang belum divaksin, bayi di bawah 12 bulan, atau tinggal di lingkungan padat, memiliki risiko lebih tinggi. Bayi tanpa ASI eksklusif, kekurangan vitamin A, atau bepergian ke wilayah dengan kasus tinggi juga lebih rentan.
Orangtua dianjurkan mengenali gejala sejak dini, memastikan imunisasi lengkap, menjaga gizi anak, dan memberikan vitamin A untuk meningkatkan daya tahan tubuh. **
Tidak ada komentar