Ilustrasi karbohidrat kompleks. Dokter olahraga RSPI menjelaskan mengapa karbohidrat tetap dibutuhkan saat puasa serta cara memilih jenis yang tepat agar energi tetap stabil tanpa memicu kenaikan berat badan.(Shutterstock/Tatjana Baibakova) Cuitan.id – Dokter spesialis kedokteran olahraga di Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menegaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan karbohidrat selama puasa Ramadhan. Ia menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers yang diikuti Kompas.com, Rabu (18/2/2026).
Risky menjelaskan, karbohidrat menjadi sumber energi utama tubuh, terutama bagi masyarakat yang tetap bekerja dan berolahraga saat berpuasa. Ia mengingatkan agar tidak menghilangkan karbohidrat sepenuhnya dari menu sahur maupun berbuka.
“Karbohidrat tetap diperlukan sebagai sumber energi, apalagi jika seseorang tetap aktif berolahraga,” ujar Risky.
Selama puasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Tubuh menggunakan cadangan karbohidrat (glikogen) sebagai energi untuk menjalankan aktivitas harian.
Saat cadangan tersebut menipis, tubuh mulai membakar lemak. Proses ini normal, tetapi tubuh tetap memerlukan asupan karbohidrat untuk menjaga keseimbangan energi dan mempercepat pemulihan setelah berbuka.
Risky menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, kentang, dan oat. Jenis ini dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan menstabilkan gula darah.
Sebaliknya, konsumsi minuman manis dan makanan tinggi gula dapat memicu lonjakan gula darah yang cepat turun. Kondisi ini membuat tubuh mudah lapar dan lemas.
Banyak orang memanfaatkan puasa untuk menurunkan berat badan dengan mengurangi karbohidrat secara drastis. Risky menilai langkah tersebut kurang tepat, terutama jika tetap rutin berolahraga.
Tubuh membutuhkan karbohidrat sebagai bahan bakar latihan. Jika asupan terlalu sedikit, tubuh bisa mengambil energi dari protein otot dan berisiko menurunkan massa otot.
“Fokus pada pengaturan porsi seimbang, bukan menghilangkan karbohidrat,” tegasnya.
Risky menyarankan pembagian isi piring secara proporsional antara karbohidrat, protein, serta sayur dan buah. Pola ini membantu menjaga kecukupan energi tanpa berlebihan.
Ia juga mengingatkan agar memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus atau memanggang dibandingkan menggoreng, karena makanan goreng meningkatkan asupan kalori.
Karbohidrat sebaiknya dikonsumsi saat sahur dan berbuka dengan porsi terkontrol. Saat sahur, karbohidrat kompleks membantu menjaga energi lebih stabil sepanjang hari. Setelah olahraga, kombinasi karbohidrat dan protein membantu mempercepat pemulihan tubuh.
Dengan pemilihan jenis, porsi, dan waktu konsumsi yang tepat, puasa dapat berjalan lancar tanpa mengganggu kesehatan maupun performa aktivitas harian. ***
Tidak ada komentar