Cuitan.id – Peneliti menemukan bahwa pubertas dini meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dan perilaku berisiko pada remaja. Selama ini, ilmuwan mengaitkan masalah mental remaja dengan pola asuh dan faktor genetik. Namun, studi terbaru menyoroti pubertas dini sebagai faktor penting yang perlu mendapat perhatian serius.
Pubertas dini terjadi sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum 9 tahun pada anak laki-laki. Peneliti dari Aarhus University, Denmark, menegaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peningkatan tekanan psikologis, diagnosis gangguan psikiatri, serta penggunaan obat psikiatri pada remaja.
Anne Gaml Sørensen dari Departemen Kesehatan Publik menyebut remaja yang mengalami pubertas lebih awal menunjukkan penilaian kesehatan diri lebih rendah dan risiko gangguan mental lebih tinggi dibanding teman sebayanya.
Risiko Lebih Tinggi pada Anak Perempuan
Penelitian melibatkan 15.818 remaja di Denmark yang mengisi kuesioner perkembangan pubertas hingga usia 18 tahun. Hasilnya menunjukkan dampak paling kuat terjadi pada anak perempuan.
Anak perempuan yang mengalami pubertas dini memiliki risiko hingga dua kali lipat menjalani pengobatan psikiatri dibandingkan remaja dengan waktu pubertas normal. Pada anak laki-laki, peneliti menemukan peningkatan risiko, namun dalam tingkat lebih rendah.
Sekitar 4 persen anak perempuan dalam studi tersebut menerima diagnosis kecemasan, sementara 12 persen lainnya melaporkan gejala kecemasan sosial. Risiko gangguan mental meningkat sekitar 26 persen untuk setiap satu tahun percepatan usia pubertas.
Berkaitan dengan Perilaku Berisiko
Peneliti Pernille Jul Clemmensen juga menemukan hubungan antara pubertas dini dan peningkatan perilaku berisiko. Remaja yang mengalami pubertas lebih cepat cenderung mencoba alkohol, rokok, dan zat terlarang pada usia lebih muda.
Temuan ini menunjukkan bahwa percepatan kematangan fisik tidak selalu sejalan dengan kesiapan emosional dan psikologis remaja.
Tren Pubertas Semakin Dini
Secara global, usia pubertas anak perempuan terus menurun. Pada 1840-an, rata-rata menstruasi pertama terjadi pada usia 16–17 tahun. Kini, rata-ratanya sekitar 12 tahun. Tanda awal pubertas seperti perkembangan payudara bahkan muncul pada usia 9–10 tahun.
Peneliti menduga obesitas, paparan bahan kimia pengganggu hormon, serta stres masa kanak-kanak berperan dalam pergeseran ini.
Orangtua Perlu Lebih Waspada
Tim peneliti menegaskan bahwa studi ini menunjukkan keterkaitan kuat antara pubertas dini, gangguan mental, dan perilaku berisiko. Meski demikian, mereka mendorong penelitian lanjutan untuk memahami faktor biologis, psikologis, dan sosial yang mendasari hubungan tersebut.
Temuan ini mendorong orangtua dan tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan kondisi mental dan perilaku anak yang mengalami pubertas lebih awal, sehingga dapat memberikan pendampingan sejak dini. ***


Tidak ada komentar