Sambut Ramadhan, Warga Majene Tumpah ke Jalan Meriahkan Pawai Obor *** Local Caption *** Sambut Ramadhan, Warga Majene Tumpah ke Jalan Meriahkan Pawai Obor. (KOMPAS.COM) JAKARTA, Cuitan.id – Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momen spiritual dan perayaan budaya yang kaya warna di berbagai belahan dunia.
Setiap negara memiliki tradisi unik yang mencerminkan akar sejarah dan kearifan lokalnya. Dari lentera warna-warni di Afrika Utara hingga tabuhan drum sahur di Asia Selatan, cara menyambut Ramadhan begitu beragam namun memiliki tujuan yang sama: memperkuat ketakwaan dan kebersamaan.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Di Mesir, lentera Fanous menjadi simbol cahaya dan kegembiraan. Tradisi ini sudah ada sejak Dinasti Fatimiyah abad ke-10 dan kini anak-anak mengelilingi rumah sambil menyanyikan lagu khas Ramadhan.
Di Pontianak, meriam karbit dibunyikan sebagai tanda Ramadhan. Pawai obor juga digelar di banyak daerah, menghadirkan suasana religius dan kebersamaan warga. Tradisi ini merupakan akulturasi budaya yang memperkaya ekspresi keislaman.
Di Turki, lampu-lampu menghiasi menara masjid membentuk tulisan religius “Hoşgeldin Ramazan” saat malam pertama Ramadhan. Penabuh genderang sahur juga berkeliling kota mengenakan busana era Ottoman.
Anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling rumah-rumah sambil bernyanyi dan menerima permen. Tradisi ini mengajarkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak dini.
Musaharati membangunkan warga sahur dengan drum dan doa pada dini hari. Dentuman meriam juga masih di gunakan sebagai penanda waktu berbuka, warisan dari masa Kesultanan Ottoman.
Kelompok Seheriwalas berkeliling kota pada dini hari, mengetuk pintu rumah sambil meneriakkan nama Allah dan Rasulullah. Tradisi ini adalah bentuk pelayanan sosial sekaligus ibadah.
Komunitas tertentu memainkan musik balada tradisional dengan drum berbahan kulit domba dan kambing, menghubungkan warisan budaya dengan spiritualitas Ramadhan.
Mhebibes di mainkan setelah berbuka puasa, mempererat hubungan sosial antarwarga melalui permainan interaktif dan hiburan.
Meski berbeda bentuk, semua tradisi Ramadhan menekankan kebersamaan, keceriaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Fanous, meriam, pawai obor, musaharati, hingga permainan lokal menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan memori kolektif masyarakat.
Ramadhan 1447 Hijriah segera tiba, dan umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan tradisi masing-masing, menekankan makna spiritual di balik setiap cahaya, dentuman, dan suara sahur. ***
Tidak ada komentar