Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Dunia, dari Fanous hingga Pawai Obor

waktu baca 2 menit
Selasa, 17 Feb 2026 18:30 4 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momen spiritual dan perayaan budaya yang kaya warna di berbagai belahan dunia.

Setiap negara memiliki tradisi unik yang mencerminkan akar sejarah dan kearifan lokalnya. Dari lentera warna-warni di Afrika Utara hingga tabuhan drum sahur di Asia Selatan, cara menyambut Ramadhan begitu beragam namun memiliki tujuan yang sama: memperkuat ketakwaan dan kebersamaan.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Fanous: Lentera Ramadhan dari Mesir

Di Mesir, lentera Fanous menjadi simbol cahaya dan kegembiraan. Tradisi ini sudah ada sejak Dinasti Fatimiyah abad ke-10 dan kini anak-anak mengelilingi rumah sambil menyanyikan lagu khas Ramadhan.

Dentuman Meriam dan Pawai Obor di Indonesia

Di Pontianak, meriam karbit dibunyikan sebagai tanda Ramadhan. Pawai obor juga digelar di banyak daerah, menghadirkan suasana religius dan kebersamaan warga. Tradisi ini merupakan akulturasi budaya yang memperkaya ekspresi keislaman.

Mahya: Cahaya di Langit Turki

Di Turki, lampu-lampu menghiasi menara masjid membentuk tulisan religius “Hoşgeldin Ramazan” saat malam pertama Ramadhan. Penabuh genderang sahur juga berkeliling kota mengenakan busana era Ottoman.

Haq Al Laila di Uni Emirat Arab

Anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling rumah-rumah sambil bernyanyi dan menerima permen. Tradisi ini mengajarkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak dini.

Musaharati di Suriah dan Lebanon

Musaharati membangunkan warga sahur dengan drum dan doa pada dini hari. Dentuman meriam juga masih di gunakan sebagai penanda waktu berbuka, warisan dari masa Kesultanan Ottoman.

Seheriwalas di India

Kelompok Seheriwalas berkeliling kota pada dini hari, mengetuk pintu rumah sambil meneriakkan nama Allah dan Rasulullah. Tradisi ini adalah bentuk pelayanan sosial sekaligus ibadah.

Musik Balada di Albania

Komunitas tertentu memainkan musik balada tradisional dengan drum berbahan kulit domba dan kambing, menghubungkan warisan budaya dengan spiritualitas Ramadhan.

Permainan Mhebibes di Irak

Mhebibes di mainkan setelah berbuka puasa, mempererat hubungan sosial antarwarga melalui permainan interaktif dan hiburan.

Kesimpulan: Warna-warni Budaya, Satu Tujuan

Meski berbeda bentuk, semua tradisi Ramadhan menekankan kebersamaan, keceriaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Fanous, meriam, pawai obor, musaharati, hingga permainan lokal menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan memori kolektif masyarakat.

Ramadhan 1447 Hijriah segera tiba, dan umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan tradisi masing-masing, menekankan makna spiritual di balik setiap cahaya, dentuman, dan suara sahur. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA