JAKARTA. Cuitan.id – Jagat media sosial dalam beberapa hari terakhir dihebohkan oleh dua tautan misterius bertajuk “Teh Pucuk 17 Menit” dan “KKN viral”. Judul tersebut memicu rasa penasaran warganet dan menyebar luas dalam waktu singkat.
Fenomena ini bermula dari potongan video berdurasi kurang dari dua menit yang beredar di berbagai platform. Dalam cuplikan tersebut, terlihat sebuah botol minuman yang kemudian di jadikan judul sensasional dalam sejumlah unggahan ulang.
Botol Minuman Jadi Umpan Klik
Istilah “Teh Pucuk viral” muncul setelah nama produk minuman tertentu di cantumkan dalam judul unggahan. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari pihak merek terkait video tersebut.
Nama produk di duga hanya digunakan sebagai strategi untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah klik. Praktik semacam ini kerap terjadi di ruang digital, di mana judul provokatif di manfaatkan untuk mempercepat penyebaran konten.
Klaim Versi 17 Menit dan Isu KKN
Spekulasi berkembang setelah muncul klaim adanya versi lengkap video berdurasi 17 menit. Narasi kemudian di kaitkan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bahkan, sejumlah nama mahasiswa dari Universitas Mataram ikut terseret dalam rumor yang beredar tanpa verifikasi jelas.
Klarifikasi Resmi Kampus
Menanggapi isu yang berkembang, pihak kampus melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) memberikan penjelasan resmi.
Dalam pernyataannya, Satgas PPKS menegaskan bahwa perempuan dalam video tersebut bukan mahasiswi Universitas Mataram. Selain itu, video tersebut di sebut tidak direkam di wilayah NTB dan telah beredar sejak awal 2025.
Kampus juga menyebut adanya perbedaan mencolok dari segi ciri fisik dan suara antara sosok dalam video dengan mahasiswi yang sempat di tuding. Klarifikasi ini di sampaikan untuk menghentikan spekulasi yang di nilai meresahkan.
Imbauan Bijak Bermedia Sosial
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya literasi digital. Potongan video singkat yang belum terverifikasi dapat dengan cepat berkembang menjadi narasi luas yang merugikan banyak pihak.
Masyarakat di imbau untuk tidak mudah percaya pada tautan atau judul sensasional tanpa sumber jelas. Verifikasi informasi sebelum membagikan ulang menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan fitnah di ruang digital. ***


Tidak ada komentar