Illustrasi Aisyah RA(Google Gemini AI) JAKARTA, Cuitan.id – Di antara kisah rumah tangga Rasulullah SAW, terdapat satu cerita yang selalu menarik perhatian umat Islam dari generasi ke generasi, yaitu kisah kecemburuan Aisyah RA kepada Khadijah RA.
Menariknya, kecemburuan ini bukan muncul karena persaingan langsung atau konflik nyata. Khadijah RA telah wafat jauh sebelum Aisyah RA menjadi istri Rasulullah SAW. Namun, justru dari sini tampak betapa kuatnya cinta, kesetiaan, dan kejujuran emosi dalam kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW.
Aisyah RA dikenal sebagai istri Rasulullah SAW yang paling banyak berinteraksi secara langsung dengan beliau. Ia tumbuh dan belajar di lingkungan rumah tangga Nabi, menyaksikan wahyu turun, serta menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Rasulullah SAW kerap berdialog, bercanda, bahkan berlomba lari bersama Aisyah RA. Kedekatan inilah yang membentuk ikatan emosional sangat kuat antara keduanya.
Dalam beberapa riwayat sahih, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang siapa orang yang paling beliau cintai, dan beliau menjawab, “Aisyah.” Hal ini menunjukkan posisi istimewa Aisyah RA di hati Nabi.
Khadijah RA bukan sekadar istri pertama Rasulullah SAW. Ia adalah orang pertama yang membenarkan kenabian Muhammad SAW ketika wahyu pertama turun.
Saat Rasulullah SAW pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar, Khadijah-lah yang menenangkan, menguatkan, dan mendukung penuh dakwah beliau. Kesetiaan inilah yang membuat Rasulullah SAW terus mengenang Khadijah, bahkan setelah wafatnya.
Rasulullah SAW sering memuji Khadijah, mengenang pengorbanannya, serta memuliakan sahabat-sahabat dekatnya. Hal ini menunjukkan betapa besar jasa Khadijah RA dalam perjuangan Islam.
Aisyah RA sendiri mengakui bahwa ia tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi lainnya sebagaimana ia cemburu kepada Khadijah RA.
Padahal, Aisyah RA tidak pernah bertemu, berbicara, atau hidup di masa yang sama dengan Khadijah. Namun, setiap kali Rasulullah SAW menyebut nama Khadijah dengan penuh pujian, rasa cemburu itu muncul secara alami.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering menyembelih kambing lalu membagikan dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Bagi Aisyah RA, hal itu seolah membuat Khadijah selalu hadir dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Dalam satu riwayat, Aisyah RA pernah menyampaikan kecemburuannya secara terbuka. Namun jawaban Rasulullah SAW justru menjadi teladan besar tentang kesetiaan dan kebijaksanaan seorang suami.
Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Khadijah RA dengan lembut, imannya saat orang lain ingkar, pembenarannya saat orang lain mendustakan, pengorbanan hartanya, serta keturunan yang Allah anugerahkan melalui Khadijah.
Jawaban ini bukanlah bentuk kemarahan, melainkan penegasan nilai dan penghargaan atas jasa masa lalu, tanpa meremehkan perasaan Aisyah RA.
Dalam Islam, rasa cemburu diakui sebagai bagian dari fitrah manusia. Selama tidak melahirkan kezaliman, cemburu merupakan wujud cinta dan rasa memiliki.
Allah SWT berfirman:
“Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Para ulama menjelaskan bahwa kecemburuan Aisyah RA termasuk cemburu yang wajar dan dimaklumi, karena lahir dari cinta yang tulus.
Kisah kecemburuan Aisyah RA kepada Khadijah RA tidak berakhir dengan konflik, melainkan menjadi pelajaran berharga tentang kejujuran emosi, kesetiaan, dan kebijaksanaan dalam rumah tangga.
Aisyah RA tetap menjadi istri yang paling dicintai Rasulullah SAW di masa hidup beliau. Sementara Khadijah RA tetap menjadi perempuan yang tak tergantikan dalam sejarah perjuangan Islam.
Dari kisah ini, umat Islam diajak memahami bahwa keadilan dalam rumah tangga bukan berarti menyamakan segalanya, melainkan menempatkan setiap orang sesuai dengan perannya, penuh cinta dan hikmah. ***
Tidak ada komentar