Al Quran(freepik.com) JAKARTA, Cuitan.id – Malam Nisfu Syaban dikenal sebagai salah satu malam istimewa dalam kalender Islam. Malam yang jatuh pada pertengahan bulan Syaban ini kerap dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah sebagai bentuk persiapan spiritual menuju bulan suci Ramadhan.
Salah satu amalan yang populer dan mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Asia Tenggara, adalah membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda. Tradisi ini terus dijaga karena dinilai memiliki nilai edukasi spiritual meski tidak bersifat wajib dalam syariat.
Dalam literatur klasik Islam, malam Nisfu Syaban dipahami sebagai momentum turunnya rahmat dan ampunan Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa malam pertengahan Syaban termasuk waktu yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah.
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa pada malam ini Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan permusuhan, kesombongan, dan kemusyrikan. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak taubat dan amal saleh.
Surah Yasin sering disebut sebagai jantung Al-Qur’an karena kandungannya yang merangkum pokok-pokok keimanan, seperti tauhid, kerasulan, kehidupan akhirat, dan tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
Dalam kitab Fadhail Al-Qur’an, Surah Yasin disebut memiliki keutamaan besar bagi pembacanya. Ulama tafsir juga menilai surah ini sangat relevan dibaca pada malam refleksi spiritual seperti Nisfu Syaban.
Membaca Surah Yasin tiga kali bukanlah ketetapan syariat yang bersifat wajib, melainkan hasil ijtihad ulama untuk mengarahkan doa secara lebih terstruktur.
Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan tiga niat utama:
Bacaan pertama untuk memohon panjang umur dalam ketaatan.
Bacaan kedua untuk memohon rezeki yang halal dan berkah.
Bacaan ketiga untuk memohon keteguhan iman dan husnul khatimah.
Pembagian niat ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Membaca Al-Qur’an dengan niat yang baik dipandang sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dalam tradisi keilmuan Islam, Surah Yasin kerap dijadikan wasilah doa dengan harapan mendapat pertolongan dan rahmat Allah.
Hal ini menegaskan bahwa amalan tersebut bukan jaminan mutlak terkabulnya doa, melainkan bentuk ikhtiar batin yang disertai keikhlasan.
Ulama kontemporer menekankan bahwa esensi ibadah Nisfu Syaban terletak pada kualitas ibadah, bukan sekadar jumlah bacaan. Tradisi lokal seperti membaca Yasin tiga kali tetap dibolehkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama.
Yang paling utama adalah kehadiran hati, ketulusan niat, dan perubahan akhlak setelah ibadah dilakukan.
Malam Nisfu Syaban sering disebut sebagai pintu gerbang menuju Ramadhan. Umat Islam dianjurkan menjadikannya sebagai waktu muhasabah, memperbaiki hubungan sosial, dan memperkuat komitmen ibadah.
Membaca Surah Yasin pada malam ini bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari proses menata hati agar memasuki Ramadhan dengan iman yang lebih kuat dan jiwa yang lebih bersih.
Tradisi membaca Surah Yasin tiga kali di malam Nisfu Syaban lahir dari pemahaman tentang keutamaan Al-Qur’an dan kemuliaan malam pertengahan Syaban. Meski tidak bersifat wajib, amalan ini tetap bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang tulus dan sesuai tuntunan Islam.
Pada akhirnya, yang paling utama bukanlah seberapa banyak bacaan, melainkan sejauh mana ibadah tersebut mampu mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas hidup seorang Muslim. ***
Tidak ada komentar