Profil Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita, Pramugari ATR 42-500 yang Jatuh di Pangkep

waktu baca 2 menit
Selasa, 20 Jan 2026 18:45 25 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Dua pramugari pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian publik. Mereka adalah Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Sianipar.

Pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport dilaporkan jatuh pada Sabtu, 17 Januari 2026. Hingga Senin (19/1/2026), tim SAR gabungan masih terus melakukan proses pencarian dan evakuasi di medan yang sulit.

Korban Pramugari Ditemukan di Kedalaman 500 Meter

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa satu pramugari telah ditemukan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Namun, identitas korban tersebut masih menunggu proses resmi.

“Korban yang ditemukan merupakan korban kedua. Proses identifikasi masih berlangsung,” ujar Syafii dalam konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Sehari sebelumnya, tim SAR juga menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki.

Profil Florencia Lolita Wibisono

Florencia Lolita Wibisono, yang akrab disapa Ollen, berusia 32 tahun. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara.

Florencia memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan. Selama kurang lebih 14 tahun, ia berkarier sebagai pramugari di Lion Air sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport.

“Sekitar tiga bulan terakhir dia bertugas di pesawat ATR 42-500,” ujar salah satu anggota keluarga.

Selain bertugas sebagai pramugari, Florencia juga dikenal berperan sebagai trainer awak kabin, membina dan mendampingi kru pramugari baru.

Profil Esther Aprilita Sianipar

Esther Aprilita Sianipar merupakan pramugari keturunan Batak, anak dari pasangan Adi Sianipar dan J. Siburian. Keluarganya menetap di Bogor, Jawa Barat.

Esther adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan telah menekuni profesi pramugari selama 6 hingga 7 tahun. Ia dikenal berpengalaman melayani berbagai rute penerbangan domestik.

Ibunda Esther mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dilakukan pada Jumat malam, 16 Januari 2026. Saat itu, Esther mengabarkan sedang menjalankan tugas di Yogyakarta.

“Masih sempat chatting. Dia bilang lagi di Jogja,” ujar sang ibu.

Namun, keesokan harinya Esther tidak lagi dapat dihubungi. Ayahnya juga mengaku pesan WhatsApp yang dikirim tidak mendapatkan balasan dan ponsel Esther sudah tidak aktif.

Menunggu Informasi Resmi

Hingga saat ini, pihak keluarga kedua pramugari masih menunggu informasi resmi dari otoritas terkait mengenai proses pencarian, identifikasi korban, serta penanganan lanjutan atas insiden tersebut.

Tim SAR gabungan terus bekerja di lokasi dengan mempertimbangkan faktor cuaca dan kondisi medan yang ekstrem. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA