Tes Darah Baru Prediksi Risiko Demensia hingga 25 Tahun Lebih Awal

waktu baca 2 menit
Jumat, 21 Nov 2025 20:00 33 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.idDemensia adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan mengingat, berbahasa, hingga memecahkan masalah akibat terganggunya sel dan jaringan saraf di otak. Deteksi dini menjadi faktor penting karena dapat membantu meningkatkan kualitas hidup serta membuka peluang penanganan yang lebih efektif.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di European Heart Journal menemukan bahwa tes darah sederhana menggunakan kadar troponin jantung dapat memprediksi risiko demensia hingga 25 tahun sebelum gejala pertama muncul. Temuan ini dikutip dari laporan NY Post.

Troponin merupakan protein yang dilepas ketika terjadi kerusakan ringan pada otot jantung. Studi tersebut menunjukkan kadar troponin yang lebih tinggi di usia paruh baya berkaitan dengan penurunan kognitif lebih cepat serta penyusutan jaringan otak di usia lanjut.

Penelitian dilakukan terhadap hampir 6.000 warga Inggris paruh baya dengan kerusakan jantung ringan. Peserta menjalani pemeriksaan kognitif secara berkala selama lebih dari dua dekade. Hasilnya, individu yang memiliki kadar troponin tinggi—sekitar 5,2 nanogram per liter—menunjukkan skor fungsi kognitif lebih rendah pada usia 80 tahun dan terus menurun pada usia 90 tahun.

Selain itu, mereka juga tercatat memiliki materi abu-abu otak yang lebih rendah, area yang berperan dalam pemrosesan informasi, memori, dan kemampuan belajar. Peneliti mencatat bahwa kadar troponin tinggi meningkatkan risiko penyusutan otak hingga 18 persen seiring bertambahnya usia.

Pada peserta yang akhirnya terdiagnosis demensia, pola kadar troponin yang tinggi sudah terlihat bahkan tujuh tahun sebelum diagnosis resmi muncul.

Meski demensia umumnya terdeteksi pada usia 60-an, tanda awal seperti gangguan memori, sulit fokus, atau masalah komunikasi dapat muncul sejak usia 40-an. Faktor risiko lain seperti riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, dan riwayat stroke juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan kondisi ini.

Temuan ini membuka harapan baru bagi pengembangan metode skrining dini yang lebih efektif sehingga masyarakat dapat melakukan pencegahan dan penanganan lebih cepat. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA