Legenda bulu tangkis Indonesia, Rudy Hartono. (Foto: The Guardian) JAKARTA, Cuitan.id – Dunia bulu tangkis internasional pernah berada di bawah dominasi Indonesia pada era 1970-an hingga awal 1980-an. Generasi emas ini dijuluki The Magnificent Seven karena kekuatan luar biasa tim beregu putra Indonesia.
Julukan ini diberikan kepada tiga tunggal putra dan dua pasangan ganda putra yang nyaris tak terkalahkan. Puncak dominasi mereka terlihat pada Piala Thomas 1976 dan 1979, ketika Indonesia mencetak kemenangan telak 9-0 tanpa balas atas tim besar seperti Malaysia dan Denmark.
Dominasi mereka tidak hanya soal deretan trofi, tetapi juga gaya permainan yang membuat lawan kesulitan bahkan untuk mencuri satu gim. Kekuatan tim ini lahir dari kolektivitas dan ketangguhan masing-masing pemain.
Berikut 7 legenda bulu tangkis Indonesia yang membentuk The Magnificent Seven:
Rudy Hartono (Tunggal Putra)
Ikon terbesar bulu tangkis Indonesia dengan 8 gelar All England, termasuk 7 gelar beruntun. Rudy menjadi fondasi utama tim Indonesia saat itu.
Liem Swie King (Tunggal Putra)
Dijuluki “King Smash”, Liem Swie King mendominasi sejak 1976 dengan 3 gelar All England. Permainan agresifnya membuat lawan selalu waspada.
Iie Sumirat (Tunggal Putra)
Dikenal sebagai “pembunuh raksasa”, Iie mencetak prestasi langka saat menumbangkan dua legenda Tiongkok pada Invitasi Asia 1976.
Tjun Tjun & Johan Wahyudi (Ganda Putra)
Pasangan ganda putra legendaris ini dikenal karena kekompakan luar biasa. Menang melawan mereka sering kali menjadi tantangan berat bagi semua lawan.
Christian Hadinata & Ade Chandra (Ganda Putra)
Melengkapi dominasi di sektor ganda, Christian dan Ade menjadi tembok pertahanan sekaligus mesin poin bagi Indonesia. Berkat mereka, final turnamen dunia sering menghadirkan All Indonesian Finals.
The Magnificent Seven bukan hanya pemenang, tetapi simbol dominasi Indonesia di dunia bulu tangkis. Kehebatan mereka tetap dikenang sebagai era emas yang mendefinisikan standar bulu tangkis internasional. ***
Tidak ada komentar